Apa yang paling perempuan butuhkan? Ku jawab kesabaran.

Apa yang paling perempuan butuhkan? Ku jawab kesabaran

Apa yang paling perempuan butuhkan? Ku jawab kesabaran

Perempuan dengan segala kondisi hatinya yang sangat sulit dimengerti. Percayalah, bukan kamu saja (pria) yang berpikir begitu, karena terkadang.. kamipun (perempuan) merasakan hal yang sama.

___

Sebuah perjalanan tak akan selalu mulus. Begitupun dengan kami. Apalagi dengan kondisi egoku yang sulit diterjemahkan. Maaf suami, aku masih seperti anak belia. Catatan ini aku rencanakan, saat suamiku memberiku sepiring nasi goreng buatannya. Padahal saat itu, aku tengah merajuk karena hal sepele. Percayalah sepele banget. Tapi, percayalah sepele itu bisa berakibat besar jika dihadapi tanpa kesabaran.

Bermula dari pagi yang tenang. Seperti biasa, aku dan suami menunaikan shalat subuh, selepasnya aku kembali tiduran dan  tertidur. Bukan tertidur, karena nyatanya aku memang berniat kembali tidur. Kalian perlu tahu, kalo aku adalah pecinta tidur sejati. Dulu sewaktu lajang, selepas subuh, aku bisa tidur seharian. Bangun jam 10 siang—-sarapan—nonton drakor—-tertidur—-bangun—makan—tidur, itulah hari liburku, dulu saat aku masih menyandang julukan jomblo kostan yang gak ada kerjaan selain nonton drama korea di kostan, makan dan tidur.

Kebiasaan buruk itu, berlanjut hingga aku menyandang peran sebagai seorang istri. Aku lebih milih kurang gaul daripada kurang tidur. Aku bisa tahan berhari-hari gak keluar, tapi aku gak pernah tahan jika sehari jam tidurku kurang dari 8 jam. Itulah aku, yang bisa langsung demam selepas begadang sampai pagi.

Pagi mu tetap sama. Maaf aku tak seantusias dulu. Maaf, aku pilih tidur kembali, ketimbang menyaksikan kamu dengan segala kehangatannya.

Aku ingat, semasa pacaran dulu sama suami, karena penasaran gimana sih rasanya “gak tidur”, akhirnya kami memutuskan untuk bermalam di starbuck kemang. Sampai di kemang pukul 21.00 malam, dan baru pulang selepas subuh. Dan kalian tau apa yang terjadi setelahnya? Di mulai dengan bersin-bersin ringan, ku coba tidur lagi ketika sudah sampai di kostan. Tapi, semakin siang, badan makin geringsangan, klimaksnya… aku demam. Aku sakit. Selemah itulah aku, jika kurang tidur.

Kembali ke pagi tadi, di sebuah rumah yang tenang. Tenang, karena aku tidur, dan suami disibukkan dengan laptopnya. Sepagi ini, ya sepagi ini dia sudah bercengkrama dengan istri ke-duanya. Miris memang, jika dihitung… waktu yang dia berikan untuk bercengkaram dengan istri kedua lebih banyak dari pada denganku 🙂

Seperti suami pada umumnya, lapar mulai menyerang. Dia mencoba membangunkanku, minta dibuatkan sarapan. Tapi, saking cintanya aku dengan tidur, aku tak bisa mengiyakan pintanya. Akhirnya suamiku yang malang membuat mie sendirian. Berkali-kali mencoba membangunkanku, tapi sia-sia. Belum waktunya aku bangun. Kapasitas tidurku belum sampai 8 jam.

Aku baru bangun saat jam 10 siang. Suami berkomentar. Meski pendek dan wajar, tapi hatiku yang lagi gak mood malah langsung mendidih dibuatnya. Suami hanya berkomentar A, aku sudah sampai Z dengan segala omelanku. Tapi, sekali lagi… Apa yang paling perempuan butuhkan? Ku jawab kesabaran. Kesabarannya mampu meluluhkan amarah yang gak jelas. Kesabarannya mampu mendobrak egoku yang meski ku tahu aku salah, aku masih belum ingin mengakuinya lantang.

Selepas drama pagi itu, kami bergegas ke Kollaspace. Berniat menulis dan menikmati promo di sana. Sesampainya di Kollaspace, di luar dugaan. Ternyata tutup dong. Moodku mulai hilang. Perasaan mulai kembali sulit dijelaskan. Kenapa? Singkat hanya karena Kollaspace tutup dong.

Oke, masih ku tahan. Suami menyarankan untuk nongkrong di salah satu tempat makan di Sarinah. Aku sempat ragu, karena sebelumnya tempat makan yang disarankan suami, wifinya kurang support untuk kegiatan menulis. Tapiiii.. keraguan itu hanya aku makan, dan tetap  berbekal harapan di sana berbeda dengan cabang yang lainnya.

Datang ke tempat makan, untuk meyakinkan, aku bertanya kepada petugas di sana—apakah wifinya bisa dipakai dengan baik—dan si petugas meng-iya-kan. Baiklah, ku pesan makan untuk kami berdua.

Eh, eh, eh.. setelah pesan makan, aku langsung buka laptop dan jreng-jreng-jreng.. wifinya gak bisa dipake 🙁 simpel, tapi untuk si fakir wifi kayak aku tuh ngalamin drama itu kok kaya sakit banget tapi gak berdarah gitu loh. Moodku makin gak stabil. Drama ke-duapun mulai aku mainkan. Kembali, Apa yang paling perempuan butuhkan? Ku jawab kesabaran.

Merajuk—cemberut—itulah aku, perempuan dengan egonya. Sesimpel itu, tapi dramanya berkepanjangan. Kami memutuskan untuk pulang ke rumah. Sesampainya di rumah, entah.. moodku makin berantakan. Perempuan marah apa yang dilakukan? Diam! Tapi, pesan untuk kalian (lelaki) jangan pernah kembali mendiamkan, karena jika diam ketemu diam, bahaya!

Di luar dugaan. Aku yang diam, suami malah masak. Aku tetap diam melihat suami masak. Aku tau, dia pasti lapar, tapi namanya lagi marah, jadi males buat negor. Ya udah kubiarkan dia masak sendirian. Tapi diluar dugaan, setelah selesai masak, dia malah memberiku sepiring nasi goreng 🙂

Apa yang paling perempuan butuhkan? Ku jawab kesabaran. Ya,,, seperti itulah suamiku. Kesabarannya, mengalahnya, selalu berhasil memenangkan hatiku. Aku tersenyum, aku cinta, suamiku!

_____

Nak, di manapun kamu sekarang, masih Allah rahasiakan kedatangannya atau telah dipersiapkan, Ibu ingin bilang, Ayahmu sungguh-sungguh sabar meladeni segala ketidakjelasan sikap ibu. Nak, jika kamu kelak bertanya, apa yang paling dibutuhkan seorang perempuan, ibu ingin jawab “Kesabaran. Kesabaran nak.. Seperti ayah yang selalu sabar menghadapi ibu”.

4 COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here