Setiap orang punya cara berbeda untuk meminimalisir rasa kehilangan yang selalu berteman baik dengan perasaan entah, antara berkemas pergi atau hidup selamanya dengan rasa sakit itu. Keduanya erat kaitannya dengan sakit. Bukankah perasaan entah yang sulit didesripsikan lebih berpeluang sakit ketimbang sesuatu yang sudah pasti?

Aku ingin hidup selamanya dengan kenangan manis, meski ujungnya pahit, aku ingin tetap hidup bersama Bia, mencoba memberi pengertian terbaik untuk diriku sendiri, memberi kesempatan padanya untuk mencoba kembali. Tapi, haruskah aku yang meminta? Bukankah jika memang Bia butuh mencoba kembali, dia yang harusnya datang dan meminta kesempatan itu padaku? Tapi, nyatanya seminggu berlalu, Bia tak datang dan tak akan pernah datang. Aku masih cukup waras untuk bisa menyimpulkan semuanya. Seberapa inginnya aku, tetap tak sejalan dengan inginnya. Seberapa aku ingin dia pulang, tetap kakinya melangkah ke rumah lain disebrang. Dan, aku harus segera berkemas. Sebelum langkahku melambat dan membujuk hatiku untuk tetap tinggal. Meski sendirian. Aku harus segera berkemas, sebelum perasaan ingin tinggal kembali lagi datang.

“Pemahaman kamu tentang pernikahan sudah salah dari awal ya”. Kina melepaskan pelukannya. Aku masih saja menangis setiap kali bercerita tentang kandasnya hubunganku dengan Bia. Kina memang tak pernah sepakat dengan pilihanku. Karena baginya pernikahan adalah hal sakral yang pantas dijemput dengan sesuatu yang sakral. Tak pantas digantung pada sebuah hubungan panjang tanpa kejelasan.

“Aku kan sudah bilang dari awal, kalo Bia serius ingin menikahimu, yang dia ketuk itu orangtuamu dan dia gak akan tega membuat kamu menunggu, apapun alasannya”.

“Udah dong Na. Aku tahu aku salah.”

Kina bangkit mengambil sebuah memo dibawah laci tv.

“Kamu ingin belajar? Datang kesini gih… Sekalian kamu istirahat. Kayaknya ini waktu yang tepat”.

Sebuah alamat tertera disecarik kertas yang dia serahkan padaku. Sebuah alamat di dataran sunda, tanah parahiangan. Disitu tertulis sebuah nama beserta nomor telponnya.

“Arkam?”

“Iya.. Arkam. Seniorku saat di kampus dulu. Dia menjadi guru mengaji disana. Pergilah kesana, dan kembalilah keduniamu. Dunia menulis ya”. Aku hanya bisa terdiam menerima satu nama dan alamat asing. Pesan Kina kali ini sungguh menyentil ego lamaku. Tentang menulis. Dunia yang aku tinggalkan 2 tahun yang lalu karena tuntutan Bia yang ingin status pekerjaan yang jelas untuk bisa dibanggakan di depan teman-temannya.

“fikirin dan segera kabari aku kalo kamu mau kesana ya”.

Aku di sini. Aku harap, tentangmu cukup sampai di sini. Aku sudah berkemas, sejauh ini. Jangan lancang untuk kembali datang.

Jakarta, 21 Juni 2011

Aku mulai berkemas. Keputusanku bisa menjadi satu aksi nekat sepanjang sejarah. Aku tidak mengenal siapa Arkam. Aku tidak banyak tahu selain apa yang diceritakan Kina. Semuanya sangat sangat asing. Arkam, guru mengaji, kota kecil di tanah pasundan, semua terdengar asing. Tapi, justru karena mereka asing, aku ingin menjadi bagian asing diantara mereka. Kadang, kita sukar menjelaskan bagaimana akhirnya kita mengambil sebuah keputusan besar dalam hidup. Keputusan yang akhirnya membawa kita pada kejadian-kejadian dimasa mendatang. Bisa dibilang ‘takdir’ telah menyeret kakiku melangkah sejauh itu. Hingga aku disini, distasiun gambir menyeret koper besar.

Pelan tapi pasti, kereta membawaku pergi dari hiruk pikuk kota. Hatiku merasa telah melakukan hal yang tepat, entah tepat dari segi mana. Mungkin tepat karena aku sudah menerima kepergian Bia atau tepat karena aku akhirnya kembali berkelana dengan isi kepalaku sendiri lalu menguraikannya dalam bentuk tulisan? Lagu feeded alan walker mengalun pelan dari earphone. Sedikit sedikit, sesak itu pergi menjadi satu penerimaan. Ya, aku tak bisa memaksa Bia, begitupun aku tak bisa menggugat Allah untuk selalu setuju dengan apa yang sudah aku tulis dalam buku masadepan. Semakin bisa menerima, kelapangan semakin aku rasa. Aku sungguh ingin belajar. Dari siapapun, aku minta tolong beri aku pemahaman yang baik tentang apapun, agar segala yang pahit bisa aku artikan dengan baik. Aku ingin membuka hati tentang sebuah pemahaman baru. Ku harap, ini jalan yang tepat untuk mendapatkannya. Majalengka, Arkam, dan segala apapun yang asing disana, tolong beri pemahaman yang baru untukku. Pemahaman yang jauh lebih baik dari yang aku dapat atau aku baca disini.

Jika ini disebut sebuah pelarian, semoga menuju pelarian terbaik yang bisa merubahku menjadi lebih baik. Yang bisa membawaku lebih dekat denganNya. Jika ini sebuah pelarian, dan ini pelarian ketempat yang lebih baik, ijinkan aku tersesat didalamnya. Ijinkan aku sampai lupa jalan pulang. Ijinkan aku selamanya disana, sampai akhirnya aku tak lagi berlari dan ingin tinggal selamanya disana. Sampai aku menerjemahkan pelarian itu adalah sebuah perjalanan menuju rumah. Bukan menuju tempat asing yang hanya menyuguhkan kesepian.

________

Majalengka, 21 Juni 2011

Majalengka, memang lebih kecil dari Jakarta. Tapi lebih besar dari tempat kelahiranku di sebuah desa di provinsi Jawa Timur. Sambil menaik becak, aku memperhatikan setiap sudut kota. Ini sudah layak disebut kota. Sudah cukup ramai untuk menjadi tujuan wisata. Dan tentunya sudah cukup berkembang untuk menjadi tujuan perantauan. Supermarket sudah mudah ditemui disini, transportasi yang baik, dan tentunya lapangan kerja yang cukup. Becak yang kutumpangi masuk ke sebuah gank pinggir lapangan sepakbola. Berhenti disebuah rumah bilik bercat putih. Suasana hangat mulai menyapa mataku. Sebuah rumah yang apik terawat dengan halaman yang lapang dan anak-anak yang hilir mudik bermain kesana-kemari. Aku sulit mengerti bahasa mereka, yang bisa aku terjemahkan dari tatapannya adalah rasa bahagia anak-anak dengan teman bermainnya. Di samping rumah, berdiri sebuah mushola. Tak besar, tapi cukup untuk menampung 20 orang untuk sholat berjamaah. Dari kejauhan, aku melihat sosok perempuan anggun tersenyum sambil mengeja huruf hijaiyah di papan tulis. Suaranya lembut tapi tegas bersautan dengan suara nyaring anak-anak. Jilbabnya yang lebar menambah keanggunan sosok perempuan itu. Hatiku merasa teduh melihat wajah dan keanggunannnya. Aku dibuat terkesima olehnya di detik pertama aku melihatnya.

“Dek… numpang tanya boleh?”

“Ini betul tempat tinggalnya Arkam?”

“Teman kang Arkam dari Jakarta ya?” Jawaban itu datang bukan dari gadis kecil bermata bulat didepanku. Tapi dari perempuan yang berjalan  tergopoh-gopoh keluar mushola, mendekat kearahku. Perempuan yang membuat mata dan hatiku teduh.

“Assalamualaikum”.

“Waalaikumsalam”.

“Kang Arkam gak tinggal disini, ini mushola yang dia kelola mba. Dek hamid…” Kali ini perempuan itu memanggil anak lelaki mungkin sekitar umur 11 tahun.

“Dek.. Anterin mbanya ke tempat kang arkam ya. Mba masih harus mengajar”. Katanya lembut.

“Mba.. mba ikut sama dek hamid. Maaf saya gak bisa antar, saya masih harus ngajar.”  Katanya lembut sambil tersenyum hangat.

***

“Assalamualaikum, Saya Arkam. Kamu Lia teman Kina dari Jakarta kan?” Sosok Arkam benar-benar jauh dari yang aku bayangkan. Aku fikir, Arkam adalah seorang pria dewasa dengan janggut yang lebat. Tapi yang kulihat sekarang adalah lelaki sederhana dengan celana jeans panjang dipadupadankan dengan kaos sporheme berwarna biru tua. Kulitnya sawo matang, tatapannya tajam, hidungnya tidak begitu mancung, dan badannya tidak begitu tinggi namun tetap lebih tinggi dia ketimbang diriku sendiri. Sosok Arkam jauh terlihat lebih santai daripada pria lain yang aku lihat di mushola.

“Walaikumsalam. Iya arkam. Aku Lia”.

“Saya sudah dengar maksud kedatangan Lia dari Kina. Mari saya antar ke tempat istirahat.”

“baik Kang”. Entah mengapa, rasanya aku harus memanggil arkam dengan sebutan Kang Arkam seperti orang disini memanggilnya.

_

Sebuah kamar berukuran 4×4 menyambutku. Kamar yang sangat sederhana. Hanya ada tempat tidur ukurang single, lemari satu pintu, satu meja kecil dan kursi di pojokan menghadap ke luar. Di atas meja, ada sebuah alquran kecil, lengkap dengan sajadah dan mukenanya.

“Ini dulu kamar Risma sebelum dia memutuskan untuk menjadi pengajar tetap di mushola. Di sini, saya ingin murid-murid yang dititipkan dapat pelajaran maksimal, jadi dengan dekat dengan pengajarnya saya harap bisa lebih maksimal.” Kata kang arkam.

“oke, makasih banyak kang. Mungkin aku hanya sampai dua minggu di sini kang.” Kataku sambil menyeret koper masuk ke kamar.

“Baik. Semoga betah dan menemukan apa yang sedang kamu cari. Tapi perlu saya tegaskan di awal, jika yang kamu cari tidak ditemukan di sini, yang salah bukan tempat ini. Tapi kamu, hati kamu.” Aku sama sekali gak mengerti apa yang dibilang kang arkam. Aku hanya bisa mengangguk pelan sambil menimang-nimang maksud perkataannya.

Melihat ekspresiku yang tampak bingung, kang arkam tertawa kecil. Tawa pertama di pertemuan pertama. Tawa yang kemudian mungkin bisa membuatku rindu.

“Kina udah cerita banyak. oh ya.. kita seumuran jadi jangan terlalu kaku ya.”

“Baiklah, kamu perlu istirahat. Kamar mandi di sana, nanti adzan ashar, saya harap kamu sudah di mushola.”

“Mushola?”

“Iya.. sehabis ashar ada jadwal mengaji rutin untuk anak-anak. Saya harap kamu bisa membantu menjadi pengajar. Biar gak sia-sia jauh-jauh ke sini.” Katanya sambil mempersilakanku masuk beristirahat. Dan dia, menghilang di balik pintu.

_________________

Terima kasih sudah membaca. Ini tulisan lama yang aku sembunyiin di draft. Sebuah cerita fiksi tapi belum layak disebut cerita, pun keterlaluan kalo dibilang cerber. Karena nyatanya aku gak bisa nulis cerita bersambung, cuma mungkin bisanya bikin puzzlenya aja. Semoga suka ya. Ini 100% Fiktif.

28 COMMENTS

  1. Wah fiktif nih?
    Tadinya malah mau tanya, Majalengka nya di mana? Siapa tabu bisa ketemuan. Hahaha…

    Ayo ditunggu cerita lanjutannya.
    Jangan sampai mudah ditebak dindingnya hehehe, nawar.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here