Siapa yang suka minum atau makan yang manis-manis? Sepertinya makanan dan minuman manis memang banyak peminatnya ya. Contohnya aku dan suami. Sudah menjadi pagi yang wajar di meja makan tersedia 2 tangkup roti bakar yang masing-masing tangkupnya berisi 3 helai roti. Setiap helainya aku olesi selai strawberry dan susu kental manis, eh sirop kental manis deh. Sedangkan untuk minumannya, karena masih pagi, kami perlu sesuatu yang menghangatkan. Entah itu teh atau kopi. Lagi-lagi rasanya manis.

Nah, kalo mengacu pada kebiasaan pagi di rumah, SKM yang lagi naik daun ini sudah aku gunakan dengan tepat. Yakni, hanya sebagai topping. Jika aku dan suami ingin minum susu, maka yang kami minum adalah susu full cream atau susu low fat yang memang susu bukan gula. Sampai di sini, mungkin teman-teman sudah bisa menebak bahwa di tulisan ini aku ingin menjadikan SKM sebagai tema utamanya.

SKM hanya boleh digunakan sebagai topping
SKM hanya boleh digunakan sebagai topping makanan

Sebelumnya, aku sempat membahas topik yang sama seputar edukasi penggunaan SKM yang baik dan benar. Untuk catatan kali ini, karena menurut pengamatanku sudah cukup banyak yang paham tentang penggunaan SKM, maka aku ingin lebih menekankan atau mungkin lebih memberikan pemaparan bahwa di luaran ternyata masih ditemukan pelanggaran label yang memvisualisasikan SKM sebagai susu cair atau susu dalam gelas untuk diminum.

Selain itu, sekalipun surat edaran BPOM  tentang label dan iklan pada produk susu kental dan analognya sudah mendapat respon yang diikuiti dengan beberapa perubahan tampilan, tapi ternyata masih ditemukan beberapa pelanggaran penggunaan label.  Bahkan iklan-iklan SKM sebelum surat edaran yakni yang masih memvisualisasikan SKM adalah susu dalam gelas masih kita termukan dengan mudah di youtube. Entah bagaimana kelanjutannya, tapi akan lebih baik jika iklan lama yang beredar di youtube pun turut dihapus.

Banyak yang sudah paham bahwa SKM bukan SUSU, kenapa masih diminum langsung?

Waktu aku hadir dalam acara #BloggerBicara, pada Senin 8 Oktober 2018 kemarin, ada satu pertanyaan yang perlu pembahasan lebar. Kenapa masih mengkonsumi SKM seperti layaknya susu dalam gelas padahal sudah paham dan tahu bahwa SKM itu tidak baik dikonsumsi langsung?

Blogger Bicara SKM
Blogger Bicara SKM

Hal yang menjadi penyebab utama adalah alasan ekonomis. Seorang ibu yang tidak merasa rugi memberikan SKM hingga 8 gelas perhari dengan alasan ‘mampu sehari beli sekaleng SKM’. Padahal untuk jangka panjang, jelas ini merugikan si anak. Mulai dengan timbulnya risiko diabetes atau bahkan pertumbuhannya tidak akan maksimal. Karena memang SKM bukan susu pertumbuhan.

Alasan berikutnya adalah sulit menghilangkan pikiran yang sudah membudaya di masyarakat. Yap, gak bisa dipungkiri bahwa kesalahan dalam penggunaan SKM sudah terjadi selama belasan tahun bahkan puluhan tahun. Tapi, jika sekarang sudah ada sosialisasi tentang kesalahan konsep dari cara mengkonsumsi SKM, akankah kita tetap mempertahankan konsep yang salah?

Oke, mungkin mengenai kedua hal tersebut perlu dilakukan edukasi lebih lanjut. Jika bisa, untuk bentuk sosialisasi atau edukasinya lebih menyasar ke masyarakat menengah ke bawah. Karena pada nyatanya target market SKM memang kalangan menengah ke bawah.

Seperti yang disarankan salah satu blogger pada acara blogger bicara, bahwa mengenai SKM ini perlu menyasar lingkungan yang skupnya lebih kecil. Tak bisa hanya dilakukan edukasi di puskesmas, atau seminar-seminar kesehatan. Kita perlu menggaet skup yang lebih kecil contohnya posyandu, di mana setiap kelurahan pasti memiliki posyandu.

Menjadi orang tua bijak

Pada akhirnya asupan gizi anak adalah tanggung jawab orang tua. Tangan orang tua-lah yang akan memilih mana makanan yang akan dikonsumsi anak dan mana yang tidak. Nah, sudahkah kamu menjadi orang tua bijak? Sudahkah kamu menjadi orang tua yang memberikan hak anak dengan bijak termasuk hak memberikan kesehatan tubuh?

Berbicara tentang menjadi orang tua yang bijak, aku kok kayak enggak ada pantesnya. Hehe… punya anak juga belum, nikah aja baru hitungan bulan. Ehm.. tapi sebenernya ini perlu diterapkan juga sih dalam pemilihan asupan gizi untuk anak.

sudahkah kamu menjadi orang tua bijak
sudahkah kamu menjadi orang tua bijak?

Sebelumnya aku ingin bertanya, jika teman-teman berbelanja makanan dan minuman, apakah sudah cukup detail hingga memperhatikan kandungan produknya? Contohnya saat membeli minyak goreng, pernah gak sampai memperhatikan kadar lemak jenuhnya? Merasa tertampar banget ketika diingatkan tentang betapa pentingnya mengenali makanan dan minuman yang akan kita konsumsi, termasuk bahan-bahannya.

Jujur, aku masih ada di tahap yang enggan memperhatikan detail. Selain tidak memiliki waktu lebih, aku juga masih ‘malas’ membaca detail kandungan setiap produk dan tentunya bahasanya yang sulit dimengerti. Aku cukup ada di barisan pemerhati tanggal kadaluarsa, belum naik level ke pemerhati kandungannya. Kalo temen-temen gimana? Padahal ini penting banget L

Skip dulu ya. Lanjut ke poin menjadi orang tua bijak, dalam poin kali ini tentu bijak SKM. Nah, seperti yang sudah diuraikan di atas, bahwa pelanggaran tentang penggunaan label dan iklan pada SKM, sebagai orang tua kita wajib mengontrol asupan anak.

Bukan hanya tentang konsumsi makanan tapi merujuk tentang apa yang dikonsumsi oleh mata. Seperti ketika anak melihat tayangan iklan SKM periode sebelum surat edaran, atau ketika anak melihat label SKM yang masih menggunakan model seusianya, berikanlah pengarahan dan cobalah alihkan dengan penggunaan SKM yang tepat yakni sebagai topping.

Yuk, jadi orang tua bijak, bijak memilih asupan gizi dan mengolah makanan untuk anak termasuk bijak menggunakan  SKM.

21 COMMENTS

  1. Sosialisasi ke daerah yang harus lebih diperbanyak. Di kampung saya masih banyak orang tua yang menganggap SKM itu susu. Jadi mereka kasih balita minum susu dari SKM ini. Agak sulit memberikan pemahaman secara saya bukan siapa2… Ditambah “keyakinan” mereka akan SKM adalah susu ini sudah turun temurun. Kondisi ekonomi di kampung juga menjadi penyebab mereka memilih pakai SKM yang lebih murah dibanding susu “beneran” yang diperuntukan untuk anak

    • Alhamdulillah berarti di rumah ibu udah menggunakan SKM sebagaimana mestinya ya bu…

      Iya dulu, aku pun pernah menikmati SKM dalam gelas

  2. kalau dulu aku masih sering bikin SKM diseduh make air dan ditambah es batu karena mengira sama aja kayak susu biasa. trus lama kelamaan entah kenapa aku kurang suka sama minuman yg terlalu manis jadinya skm ini biasanya aku pakai untuk tambahan topping di roti tawar atau jadi pengganti selai.

    • Waah… Jadi mba amel mengubah pemakaian SKM krn kesadaran ya bahkan sebelum ada sosialisasi pasti dari BPOM. Wah keren nih..

  3. Udah Lama nggak beli SKM, karena jarang bikin kue di rumah pas kecil ibuku sering kasih skm coklat dan aku kecanduan.. Pas oerhatiin kadar gulanya langsung ga beli lagi..

  4. Skm kalau dirumah buat campuran topping roti tawar dan kue lebaran buatan mama, yang terpenting saat mengkonsumsi SKM diatur saja penggunaannya jangan berlebihan kali ya say.. 🙂

  5. Iya nih teh.. dulu bnget suka tuh ngeliat alm bapak minum SKM pakai es batu.. terus aku juga ikut2an walau gk sering ternyata salah y kandungan SKM trlalu manis utk tubuh krn kdar gulanya yg lbh bnyk

  6. Dulu waktu alm bapak suka bmget nih minum SKM pakas es.. akupun ikut2 walaupun gk terlalu sering.. ternyata salah y hnya cocok utk toping krn terlalu manis kandungan gulanya lbh bnyk ktimbang susu

  7. Setahuku emang kental manis tidak cocok untuk tambahan minuman bagi tumbuh kembang anak karena memang formulanya berbeda dengan susu . Suka dengan kebijakn pemerintah dan perusahaan yang rajin memberikan sosialisasi supaya tidak salah pemberian.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here