Halo… Selamat bermalam minggu ya buat kamu.

selamat malam minggu juga buat aku dan suami yang saat ini sedang duduk di depan laptop masing-masing di sebuah coffeeshop di bilangan Jakarta. Atmosfir di sini dingin banget, padahal coffeshopnya cukup ramai. Banyak karbon dioksida yang dikeluarkan, harusnya atmosfir di sini agak panas. Entahlah, aku gak begitu suka dengan ruangan yang dingin banget. Berasanya di kulit tuh gimana ya, kayak nagih buntelan selimut. Bikin aku sulit buat mikir apalagi berimajinasi. Hehe..

Oh ya, sebelumnya aku pengen tanya, berapa sih jumlah pengangguran di lingkungan kamu? Banyak gak? Nah, kira-kira.. dari tahun ke tahun, pengangguran makin berkurang apa bertambah sih? Cukup jawab dalam hati ya. Atau boleh tinggalkan komentar di bawah setelah kamu usai membaca tulisan ini.

Personally, aku miris dan sedih banget kalo pengangguran makin banyak. Apalagi penyebabnya adalah pemutusan kerja secara sepihak. Ya, PHK atau pemutusan hubungan kerja disadari atau tidak dapat menjadi faktor yang melatarbelakangi adanya pengangguran. Saat seseorang diberhentikan dari pekerjaannya, maka akan banyak akibat yang mengintai.

Coba deh, jika seorang kepala keluarga atau tulang punggung keluarga diberhentikan dari pekerjaannya. Maka di belakangnya akan ada keluarga yang kebutuhan hidupnya tidak bisa lagi dipenuhi. Akan bertambah satu orang lagi di barisan jobhunter yang berharap bisa mendapat pekerjaan atau minimalnya diberi kesempatan menunjukkan skill dengan sebuah panggilan interview. Dan fakta yang lebih meyebalkan adalah mendapatkan pekerjaan pengganti tidak semudah membalikkan telapak tangan. Masa menunggu panggilan interview, tak seasyik menunggu tanggal gajian.

Inspeksi di Terminal Pengawasan JITC
Inspeksi di Terminal Pengawasan JITC

Inilah yang aku pengen ceritakan. Tentang buruh kontainer dan operator RTGC (Rubber Tyred Gantry Crane) di Tanjung Priok. Khususnya mereka yang kena PHK masal akibat berakhirnya kerja sama antara PT Jakarta International Container Terminal (JICT) dengan perusahaan penyedia tenaga kerja alih daya PT Empco Trans Logistik. Mereka diberhentikan bukan karena membuat kesalahan, atau tidak memiliki keterampilan, karena pada kenyataannya, mereka adalah pekerja profesional yang sudah belasan bahkan puluhan tahun mengabdikan diri. Mirisnya sudah bekerja selama belasan dan puluhan tahun tidak membuat mereka diangkat menjadi pegawai tetap. Padahal, menurut UU No.13 Tahun 2003, pekerja perjanjian kerja waktu tertentu hanya boleh dikontrak selama 2 tahun.

Coba deh renungin, pekerja yang memiliki skill, bertahun-tahun bekerja di JICT, yang mana sumbangsih mereka untuk PT JICT itu udah mencapai ratusan miliar rupiah pertahun. Apakah adil, jika mereka di PHK setelah bekerja belasan sampai puluhan tahun? Apakah mereka gak layak diangkat sebagai pegawai tetap? Punya skill yang gak diragukan loh.

Kalo denger kabar-kabar yang bikin mulut gatel pengen berkomentar tuh ujungnya pengen sadar aja. Sadar dan melek, kalo kasus ketidak-adilan tentang pemberian hak pekerja itu memang nyata ada. Karena pemutusan hubungan kerja sepihak apalagi secara masal itu bener-bener gak adil. Akan banyak orang yang dirugikan, baik pekerja terkait atau keluarga dari pihak pekerja terkait. dan jatunya ini menyangkut hajat orang banyak.

Dan lebih mirisnya lagi, pekerja yang menggantikan mereka yang kena PHK adalah pekerja yang kurang memiliki keterampilan sehingga menyebabkan banyak kerugian dan kesalahan kerja. Entahlah… ku tak tahu harus berkomentar apa lagi 🙁

Biar kita sama-sama melek, kenapa sih buruh kontainer dan operator RTGC itu harus memiliki skill? Kenapa gak bisa asal nyomot gitu aja dari vendor penyedia layanan penyedia tenaga kerja?

Proses kerja di Pelabuhan Kontainer itu dimulai ketika kontainer dari luar pelabuhan datang diangkut dengan truck. Lalu, truck akan menuju Container yard (CY), yang nantinya di CY, kontainer akan diturunkan dari truck dengan menggunakan alat bongkar CY. Seperti RTGC, RMGC, dan Reach Stacker. Nah, nurunin kontainer dari truck terus menyusunnya di Container Yard itu gak semudah dan sesimpel menurunkan dus dari mobil terus disusun di lemari. Ini kontainer yang beratnya ngalahin karung beras. Resiko buruh kontainer itu besar. Jika berada di tangan yang tidak memiliki skill, kesalahan seperti salahnya posisi muat peti kemas dan tidak terangkut bisa terjadi. Lambannya pelayanan yang menyebabkan puluhan truck kontainer harus antre di Tanjung Priok dan kapal-kapal terlambat dari empat hingga 44 jam, bisa terjadi. Belum lagi kerugian secara materi. Dan resiko yang paling parah jika buruh kontainer dan operator RTGC tidak memiliki keterampilan adalah dapat menyebabkan kecelakaan kerja.

Jadi, masih maukah mengemban resiko dan kerugian besar dengan mempekerjakan seseorang yang kurang memiliki keahlian?

Hal-hal diataslah yang melatarbelakangi para pekerja pelabuhan sejak senin, 16 Juli 2018 mendirikan tenda sebagai bentuk keprihatinan di halaman kantor Dinasker Jakut untuk menyampaikan aspirasi menolak outsourcing. Kegiatan SPC (Serikat pekerja Container) ini berperan untuk mendukung dan mendampingi Suku Dinas Tenaga Kerja agar melaksanakan tugas sesuai dengan undang-undang ketenagakerjaan.

Hari ini, 19 Juli 2018, pekerja mendirikan tenda di halaman kantor Disnaker Jakut sejak senin kemarin. Mereka menuntut keadilan agar seluruh anggota SPC dapat kembali bekerja seperti semula dengan status pegawai tetap.
Hari ini, 19 Juli 2018, pekerja mendirikan tenda di halaman kantor Disnaker Jakut sejak senin kemarin. Mereka menuntut keadilan agar seluruh anggota SPC dapat kembali bekerja seperti semula dengan status pegawai tetap.

Pada tanggal 19 Juli 2018 lalupun telah dilaksanakan pertemuan koordinasi teknik lapangan untuk pengawasan oleh Suku Dinas Tenaga Kerja Jakarta Utara, Otoritas pelabuhan, SPC, dan SPJAI ke Terminal Operasional JICT di Tanjung Priok. Simpulan dari pertemuan ini adalah akan diadakan lagi rapat antara OP, Kemenaker, SP, JICT, untuk hasil akhir pertemuan tanggal 19 juli pada tanggal 30 Juli 2018 mendatang.

Rombongan pengawasan ke pelabuhan hanya membahas soal alur kerja kapal, job description pekerja dan bagaimana alur kerja core bussines sebagai inti permasalahan antara SP JICT dan manajemen JICT. Disnaker Jakut sebagai pihak penengah akan menjembatani agar masalah antara serikat pekerja dan manajemen dapat menemukan solusi terbaik.

Nah, itulah sekilas cerita tentang buruh kontainer dan operator RTGC di Tanjung Priok. Mari  kita doakan semoga segera menemukan titik terang dan semoga para buruh dan operator RTGC dapat menerima haknya yakni kembali dipekerjakan dan diangkat menjadi pegawai tetap.

Kembali lagi ke suasana coffeeshop yang makin malam makin aduhai dinginnya. Jam di layar sudah menunjukan pukul 22:58. Pantes pengunjung cofeeshop berangsur meninggalkan tempat duduk. Mungkin, beberapa menit dari sekarangpun meja yang aku tempati akan kembali lengang, begitupun dengan kursinya, akan kembali kosong. Memberikan ruang bagi siapapun yang sekiranya berminat untuk duduk di tempatku. Menikmati atmosfir yang sama denganku. Semoga memiliki doa yang sama pula denganku.

-Selamat malam, waktunya aku pulang-

3 COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here