“You never look good trying to make someone else look bad.” Anonim

__________

Pernah mendengar kasus tentang bullying atau bahkan kamu pernah mengalaminya aau mungkin pernah melakukannya? Jujur ya mungkin sampe sekarang aku masih melakukan bullying meski dalam skala kecil dan semoga saja memang kecil dan bisa mendapat ampun dari korban. Ih shinta jahat ih….

Ey… Oke, sebelum terlalu jauh aku pengen menggaris bawahi bahwa bullying enggak selalu tentang kekerasan fisik berupa tamparan, tendangan atau perkelahian yang dimulai dengan cekcok adu mulut. Tapi, mengejek atau melakukan kekerasan verbal juga termasuk tindakan bullying lho. Contoh kecilnya ketika kita mengejek status seseorang, fisik seseorang, latar belakang seseorang atau bahkan kesedihan seseorang.

Hayo, siapa yang sering mojokin temennya yang jomblo? Hati-hati lho itu juga contoh dari tindakan bullying. Ini nih salah satunya yang masih kadang aku lakukan sampe sekarang. Mulut masih gatel pengen ngejek meskipun dengan maksud candaan atau sekadar metode mengakrabkan diri dengan si teman. Tapi bisa aja penerimaan si teman yang menjadi korban berbeda. Kita niatnya hanya bercanda, eh ternyata psikologisnya malah jadi down gara-gara perkataan kita, itu juga masuk kategori bullying lho.

Stop Bullying
Stop Bullying (sumber: Hipwee)

Mari flashback ke masa-masa sekolah, lebih jauh lagi masa-masa sekolah dasar. Gimana sih kamu saat duduk di sekolah dasar? Pernah akrab dengan kalimat ini gak “Hey, jangan temenan sama si Ani ya”,  “Dia bau jengkol” (misalnya). For your information, aku anak lahiran tahun 1993 yang saat duduk di bangku SD lagi demam-demamnya sama Primus Yustisio dengan perannya sebagai Manusia Millenium. Pada zamanku SD, kalimat-kalimat seperti itu sudah menjadi hal wajar. Bahkan lingkungan pertemanan pun cenderung berkelompok. Mana yang lebih pintar, lebih cantik, lebih kaya, itulah yang berkuasa. Sisanya siap-siap jadi ajudan atau bahkan korban bullying. Semoga anak-anak zaman sekarang sudah lebih kekinian dan maju ya, jadi gak ada lagi tuh kalimat-kalimat seperti itu. Semoga.

Temen-temen, adik-adik yang baik, bullying itu ternyata sangat merugikan korban lho. Seseorang yang mengalami bullying akan merasa cemas, putus asa, atau terasing yang ujungnya akan mengalami kesulitan belajar, banyak diam dan sulit membangun komunikasi. Akibat parahnya adalah depresi yang bisa menyebabkan korban memilih menyalurkan emosinya terhadap  benda-benda berbahaya seperti narkoba. Bahkan tidak sedikit korban bullying memutuskan bunuh diri. Sedih ya, efeknya gak bisa kita sepelein. Maka dari itu, yuk stop bullying dalam hal apapun.

Berbicara tentang bullying terhadap anak remaja yang erat kaitannya dengan kesehatan jiwa, Kamis 4 Oktober 2018, aku mendapat kesempatan untuk mengikuti forum diskusi bersama Kementerian Kesehatan dalam rangka Memperingati Hari Kesehatan Jiwa Sedunia. Nah, untuk temanya sendiri adalah Young People and Mental Health in a Changing World.Pas bangetkan timingnya? Pengin tahu lebih lengkap tentang kesehatan jiwa, salah satunya efek bullying dalam lingkungan remaja (sekolah) yang akan menjadi highlight dalam tulisan ini terus dapat kesempatan nyimak langsung dari pakarnya. Aww.. beruntungnya aku.

Dalam forum diskusi tersebut, turut hadir beberapa narasumber di antaranya dr. Eva Viora, Sp.KJ sebagai Ketua PDSKJI Pusat dan Dr.dr. Fidiansjah, SpKJ, MPH sebagai Direktur Pencegahan dan Pengendalian Masalah Kesehatan Jiwa dan Napza Kementerian Kesehatan. Sedangkan Bapak Indra Rizon, SKM, M.Kes sebagai Biro Komunikasi dan Pelayanan Masyarakat selaku moderator diskusi.

dr. Eva Viora, Dr.dr. Fidiansjah, SpKJ, MPH Bapak Indra Rizon, SKM, M.Kes
dr. Eva Viora, Dr.dr. Fidiansjah, SpKJ, MPH, Bapak Indra Rizon, SKM, M.Kes

Sejauh mana sih efek bullying dalam lingkungan remaja

Jika kamu berpikir ejekan atau kekerasan verbal hanyalah candaan yang tidak akan menimbukan efek berarti, rasanya pikiran itu perlu diubah. Meski agak terlambat, tapi sebelum ada korban lainnya mending keluarkan kata-kata yang baik aja deh.

Kata-kata yang dimata kita adalah kata-kata ringan yang mungkin dikategorikan sebagai hal wajar, bisa saja membuat depresi seseorang. Efek awalnya dari bullying adalah membuat jarak antara pelaku dan korban, akibatnya korban akan mengasingkan diri karena merasa tidak nyaman dengan lingkungan pertemanannya. Efek beratnya bisa menimbulkan bunuh diri.

Hal ini diperkuat juga dengan fakta kunci yang diungkapkan dalam diskusi kesehatan jiwa remaja yang menyebutkan  bahwa bunuh diri merupakan penyebab ketiga terbesar kematian pada usia 15-19 tahun. Pada usia remaja, kebanyakan remaja memiliki kesehatan fisik dan mental yang baik, namun akibat perubahan emosi dan sosial, termasuk akibat kemiskinan, tindak kekerasan dapat menyebabkan remaja rentan terhadapat masalah kesehatan jiwa.

Maka dari itu, yuk ah adik-adik yang manis kurang-kurangin bullying sesama teman. Alangkah baiknya kalian saling merangkul, saling support, gunakan kesehatan fisik dan mental yang baik untuk melakukan hal-hal bermanfaat. Masa depan kalian masih panjang lho. Masih ada kesempatan untuk menjadi presiden, menginjakkan kaki di bulan atau melakukan penelitian di planet baru. Siapa yang tahu kan?

Miris banget, di usia yang seharusnya belajar segiat-giatnya malah dihabiskan untuk membully teman sepermainan, yang menyebabkan depresi temen sendiri. Aku juga mulai menjaga mulut nih, biar gak keluar kalimat ejekan entah itu dari fisik, status atau apapun yang menyebabkan lawan bicara gak nyaman. Meski niatnya hanya candaan, mana tau kalo candaan kita bisa membuatnya depresi. Oh nooo!

Nah, jangan kira efek dari bullying hanya dirasakan pada saat itu aja. Efek bullying juga ternyata bisa bertahan sampai dewasa yang mempengarungi kesehatan fisik dan mental serta terbatasnya kesempatan untuk mengisi kehidupan yang lebih baik.

Oh ya, perlu temen-temen ketahui bahwa pemicu timbulnya gangguan jiwa ada dua faktor yakni faktor individu dan faktor sosial, ekonomi, budaya, politik dan lingkungan. Untuk faktor individu bisa berupa ketidakmampuan mengelola pikiran, emosi, perilaku dan interaksi dengan orang. Sedangkan untuk faktor sosial, ekonomi, budaya, politik dan lingkungan bisa berupa kurangnya dukungan kominitas, kondisi lingkungan kerja yang tidak kondusif, dan standar hidup.

Peran orang tua dalam membina anak usia remaja dalam mengelola emosi

Semua orang tua ingin anaknya tumbuh dengan baik. Mendapat lingkungan pertemanan yang baik, emosi yang baik dan  fokus belajar sehingga bisa mencapai cita-citanya. Tapi, sejauh mana sih kita sebagai orang tua sudah berperan dalam membina anak usia remaja dalam mengelola emosinya?

Temen-temen yang sedang mempersiapkan masa depan terbaik untuk anaknya, yang sudah mempersiapkan asuransi pendidikan sampai jenjang tertinggi, sudah mempersiapkan dana-dana untuk masa depan anak, perlu diketahui bahwa tidak ada kesehatan tanpa kesehatan jiwa. Yap, kesehatan jiwa itu penting banget.

Itu juga yang akan aku ingat ketika kelak mendapat kepercayaan membesarkan titipan Tuhan. Saat aku mati-matian mempersiapkan masa depan terbaik dengan dana dan pendidikan terbaik untuk anak, jangan sampai mengacuhkan kesehatan jiwanya. Anak butuh pendekatan berbeda. Anak butuh didengarkan dengan cara berbeda. Dan setiap anak perlu metode didikan yang berbeda.

Dr.dr. Fidiansjah, SpKJ, MPH,
Dr.dr. Fidiansjah, SpKJ, MPH,

Seperti yang dijelaskan oleh Dr.dr. Fidiansjah, SpKJ, MPH, Orang tua adalah benteng perlindungan untuk anak dari dunia luar, jangan sampai anak merasa jauh dengan orang tuanya sehingga anak merasa tidak memiliki tempat perlindungan. Kenali karakter dan emosi setiap anak, dekati sesuai karakternya. Buatlah anak nyaman bercerita kepada kita. Caranya adalah dengan tidak mengintimidasi, tidak menyudutkan, dan berusaha jadi pendengar yang baik.

Keluarga adalah lingkungan inti di mana menjadi dasar perkembangan psikologis anak. Ciptakan lingkungan keluarga yang baik, nyaman, tenang, damai, dan harmonis sehingga anak mampu mengelola emosi dengan baik.

Peringatan Hari kesehatan jiwa sedunia 2018  merupakan kesempatan bagi seluruh pemangku kepentingan untuk bahu membahu dalam rangka mewujudkan masyarakat yang berperilaku sehat, hidup dalam lingkungan yang sehat, mampu menjangkau pelayanan kesehatan yang bermutu untuk mencapai derajat kesehatan yang setinggi-tingginya dengan melakukan gerakan masyarakat hidup sehat.

Stand Up, Stay Strong, Stop Bullying.

2 COMMENTS

  1. sama aja dengan mulutmu harimaumu. Pelaku bullying biasanya merasa superior, makanya dia berani. Kalau korbannya balik melawan maka pelaku jadi mikir-mikir untuk bully lagi. Pengalaman pribadi aku si gitu

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here