Tuhan selalu punya cara dalam menghadirkan, begitupun dengan sejuta rasa yang akan lahir dari sebuah perpisahan. Laksana siang dan malam, jumpa dan lambaian tangan berganti-ganti menyusun sebuah memorial. Aku, salah satunya, manusia yang penuh rasa ketidaktahuan, atau bahkan sengaja menutup mata dan telinga untuk menerima petunjukNya.

Adalah aku yang menantinya di depan pintu. Namun saat dia datang, aku tak lekas membuka pintu. Adalah aku yang telah bersolek seharian untuk menyambutnya datang. Tapi saat dia mengetuk pintu, aku masih disibukkan harapan-harapan lain. Adalah aku, yang menerimanya datang tapi dengan penuh keraguan, pada awalnya.

Kamu perempuan, kita pernah menari-nari dalam kebimbangan yang sama. Kamu perempuan, kita akan tiba di persimpangan yang sama. Ketika hati menyerukan sebuah nama, tapi logika malah berteriak mengapa. Kita perempuan, akan tiba di masa di mana cinta dan rasa kagum menjadi satu kesatuan yang sulit dibedakan. Jangan lancang untuk lari, karena kemanapun persimpangan seperti ini akan tetap kau temui.

Hati hanyalah seonggok daging tapi mengapa keinginannya mampu mendominasi pergerakan yang lain. Hati hanyalah hati, tapi ketika kemauannya tak berjalan baik, sakitnya tak lebih baik dari sakit gigi. Dan ketika patah, mengapa mampu mematahkan hari hingga menenggelamkan mentari. Mengenai patah, kita pernah ada di posisi yang lama. Mengenai luka, kita pernah mengobati hal serupa.

Untuk Kamu (Perempuan), Kita Pernah Ada di Persimpangan yang Sama

Kami bukan apa-apa.  Hingga perjalanan ini hanyalah buah rencanaNya. Kami bukan siapa-siapa. Hingga kami tak bisa menjamin mulus selamanya. Jangan bilang kami masih muda hingga mudah dimabuk cinta. Sekali lagi, tulisanku hanya bentuk apresiasi rasa yang sempat membuatku sulit berkata. Maaf. Jika kami berlebihan. Kami hanya ingin membuat sebuah catatan tentang perjalanan. Untuk kelak dihadiahkan kepada turunan. “Nak… ini tulisan ibu untuk ayah, sebelum ada kamu”.

Jika kamu menerima lambaian tangan sampai sosoknya menghilang. Bahkan ketika kamu merajuk, meminta, tetap saja sosoknya tetap tak datang. Jangan takut, sebentar lagi kamu akan menerima jumpa. Meski kadang jumpa, riangnya tak kau sadari tapi sedihnya lambaian tetap terasa meski sudah kesekian hari. Memang begitu, riangnya jumpa tak bisa kau sadari hanya dengan sekali. Meski mungkin dengan sekali, tanpa kau sadari telah berhasil mencuri yang kau jaga pasti. Memang begitu, bukan hanya debaran dan lekuk bibirmu, harimupun akan kembali. Itulah jumpa. Memang begitu. Sebuah obat yang telah Tuhan persiapkan untuk luka yang kamu terima dari lambaian tangan.

Bukankah begitu? Take and give katanya. Saat kamu memberikan yang bukan hakmu, di situ kamu akan mendapat pengganti yang memang adalah hak mu.

Akan tiba. Masa yang kamu tunggu akan tiba. Meski awal kedatangannya akan kamu ragukan. Meski hatimu pernah meminta sosok lain yang datang. Kamu perlu tahu yang datang dalam waktu yang tepat biasanya adalah jawaban. Dan, tidak ada yang lebih gagah dari kedatangan dengan disertai rasa tangguh meminang.

Adalah hati yang akan menerima semua tubrukan-tubrukan rasa tak karuan. Terus menunggu yang tidak mampu memberi kepastian, atau menerima kedatangan dengan segala kebaikan. Adalah hati yang akan menampung segala pertimbangan. Berat, ringan akan membawamu pada keputusan. Melangkah atau tetap di posisi yang awal.

Ah, begitu sukarnya menentukan pilihan apalagi menyangkut masa depan. Tapi, lebih sulit lagi jika aku hanya berdiam. Aku bukan pecundang yang tak mau berhadapan dengan perpisahan. Meskipun ku tau, rasa perpisahan tetap sama meski sudah berulang dirasakan.

Hingga November 2017, aku sepakat melepaskan. Melepaskan segala ketidakpastian dan membuka pintu untuk kedatangan. Sebuah kedatangan yang harusnya aku hargai dengan senyuman. Mengenai keraguan, bukan hal mudah yang dalam sekilas bisa menghilang. Aku tak ingin menyangkal, keraguan-keraguan itu laksana syetan yang terus merayuku. Menjauhkan dari pernikahan yang merupakan ibadah yang paling panjang.

Untuk Kamu (Perempuan), Kita Pernah Ada di Persimpangan yang Sama

18 Maret 2018. Hari ini akhirnya datang. Hari yang aku pinta dalam sepertiga malam. Hari yang aku pinta dalam sujud hajatku. Hari yang aku bisikan dalam suara adzan. Hari yang aku minta dalam lapar dahaganya saat merayumu dalam ibadah sunahku. Alhamdulillah-Alhamdulillah-Alhamdulillah, Hingga 2 minggu setelah doa terijabah, nikmat ini begitu luar biasa hingga aku mohon ampun jika lupa akan bersyukur.

Sejak hari itu, aku mulai meminta do’a lain. Allah.. Cukupkan segala hal yang aku lihat, dengan hanya pada suamiku. Hingga tak pernah ada perbandingan. Karena aku ingin satu, dia. Satu, suamiku. Satu, teman ibadahku..

Dengan tidak sempurna aku dan dia menapaki setiap pesan dan ajaranMu. dengan penuh khilaf aku dan dia mencoba belajar memenuhi kewajiban padaMu. Dan, dengan sadar pula, aku dan dia meminta ketetapan hati untuk satu dan selamanya. Kami titipkan hati dan hidup hanya pada Engkau Sang Maha membolak-balikkan hati. Mantapkan, tetapkan, satu untuk selamanya.

Jakarta, April 2018

Maret 2018. Hari itu datang. Aku menemukan jawaban. Karena nyatanya keraguan hanyalah sebuah godaan untuk menuju pernikahan. Aku tak bisa menjelaskan, nyatanya kebahagiaan membuncah tumpah dalam bulir-bulir air mata syukur. Jika ini langkah yang salah, semesta mungkin tak akan memberi kemudahan.

Untuk kamu perempuan, melangkahlah bersama yang sanggup memberi kepastian. Mengenai segala keraguan, itu adalah anak-anak dari cobaan campur tangan syetan. Genapkan prosesnya dengan istikharah, mintalah agar dimudahkan. Jika kelak hati mulai penuh pertimbangan, kembalilah lagi ke niat awal, apa yang ingin kau cari, “dijemput dengan pernikahan, atau menikmati kesendirian dengan penuh pertanyaan”. Sebuah pertanyaan yang jawabannya hanya diperlukan penerimaan. Dari hatimu.

Aku tahu, jumpa adalah hakNya. Maka rayulah ia dengan sepertiga malam, rayulah Ia dengan puasa sunah, rayulah Ia dengan khusuknya sujudmu.

Semoga yang sedang bersolek mempersiapkan kedatangan, lekas mendengar suara di balik ketukan pintu. Dan semoga, sekalipun yang datang tak sesuai yang kau harapkan… keraguan tetap mengijinkannya masuk meski hanya untuk sekedar berkenalan. Jadilah tuan rumah yang baik. Itu kata ibuku.

Dan semoga yang sedang dalam pertimbangan, tidak akan pernah kalah hanya karena keraguan. Barengi dengan diskusi bersama keluarga termasuk ibu dan bapak. Karena penilaiannya adalah ridho yang bisa jadi bekal kamu menentukan pilihan.

23 COMMENTS

  1. Kalo Aku sih yes.

    Jika ragu tinggalkan saja. Kalau jodoh itu akan mudah ga paket ribet. Pernikahan itu perjalanan gak akan pernah mudah tapi juga tak melulu susah.

    Keep the Fight ladies

  2. Baca tulisan ini kok ya mirip apa yang aku alami beberapa tahun lalu. Akhirnya melepas lajang di umur 33. Nikah sama satu-satunya orang yang berani datang ke rumah buat minta, meski awalnya nggak kenal dekat sama sekali.

  3. Dan aku di sini, duduk sambil tersenyum.. Rangkaian kata-katanya indah.

    Bikin..

    Bikin aku ga sabar bertemu dengan separuh hatique..

  4. Sangat menyentuh deh.. ragu memang sifat manusia ya.. karena biasanya bingung dalam menentukan yang terbaik, tapi yang utama adalah bersyukur atas pilihan dan jalani semaksimal mungkin ya..

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here