Hal yang paling aku ingat dari pengalaman masa kecil adalah dongeng petani dan si kancil yang berulang-ulang ibu bacakan sebagai dongeng pengantar tidur. Anehnya, meski dibacakan berulang-ulang dan hapal dengan jalan ceritanya, aku tidak pernah bosan untuk mendengarkannya lagi dan lagi. Entah karena apa, saat itu yang ku tahu hanya ‘aku suka dongeng’.

Setelah dewasa, aku baru sadar. Kenapa sewaktu kecil tak pernah bosan mendengarkan dongeng yang sama secara berulang. Ternyata letaknya di momen dan suasana, bukan di ceritanya. Aku suka momen ketika ibu mengelus kepalaku sambil mendongeng, aku suka suara ibu yang kadang nyaring, geram, sedih, mendayu, meniru setiap ekspresi di dalam buku. Aku suka malam yang tenang, didekap, dan hanya suara ibu dan aku yang mengisi langit-langit rumah. Dekat, lekat, dan hangat. Belakangan aku tahu, bahwa membaca dongeng yang jadi rutinitasku waktu kecil, telah membentuk kedekatan antara aku dan ibu. Membuat satu momen kehangatan dan bergumam, “kehangatan keluarga memang nyata adanya. Tak terkecuali pada malam yang dingin.”

Let’s Read, Let’s Make a Memory
Membacakan buku sebelum tidur

Setelah beranjak dewasa aku juga baru tahu, bahwa membacakan cerita merupakan salah satu hak anak agar lebih mengenal kita, dan juga mengenal dirinya sendiri. Makanya, enggak heran kalo spog menyarankan untuk membacakan buku anak sedari dalam kandungan. Biar apa? Biar kenal suara ibu. Itu katanya. Padahal kalo ditinjau lebih kompleks lagi, hal ini juga berkaitan dengan perkembangan otak janin. Cmiiw…

Mengenalkan Kavya dengan buku bacaan

Sama halnya aku di waktu kecil, aku juga ingin menciptakan memori yang kental di ingatan Kavya. Memori yang mengantarnya pada kemampuan bahasa yang baik, pengenalan pribadi, dan tentu pengenalan dirinya sendiri.

Inilah yang mendorongku membeli beberapa buku bahkan sejak Kavya masih di dalam kandungan. Salah satu buku yang aku beli pertama kali untuk Kavya adalah buku dari Rabbit Hole berjudul Hoam. Ini bukunya.

Buku Hoam dari Rabbit Hole

Setelah Kavya lahir, pelan-pelan aku membeli beberapa buku bacaan, dan rutin membacakannya setiap sebelum tidur, minimal satu buku. Kebiasaan itu berlanjut sampai sekarang Kavya berusia 15bulan. Jika dulunya hanya bisa mendengarkan, sekarang dia sudah bisa memilih buku mana yang ingin dibacakan sebagai pengantar tidur.

Bahkan, sekarang Kavya sudah pandai berkomentar. Ya walaupun masih dengan bahasanya. Dengan kebiasaan ini, meskipun mungkin kelak Kavya tidak ingat dertail, karena masih terlalu kecil, minimal instingnya terasa hangat jika teringat masa kecil. Dan bonusnya buatku, ini juga jadi bagian relaksasi ibu-ibu hectic yang bisa sejenak lebih dekat, memberikan kehangatan, menunjukkan kasih sayang kepada Kavya. 

Kavya memilih bukunya sendiri

Memilih bacaan yang sesuai untuk anak

Kavya dan aku jelas hidup di era berbeda. Kalo dulu, ibu membaca buku dongeng yang dibelikan ayah di mobil bus saat perjalanan pulang dari tempat rantauan, sekarang aku bisa membacakan dongeng untuk Kavya lewat buku digital. 

Emang sih sensasinya cukup berbeda (mungkin aku terlalu kolot), tapi Kavya lahir di era digital, dan aku perlu mengenalkannya sejak dini, agar kelak dia tidak menggunakan kemudahan era ini untuk hal-hal negatif.

Hal yang sangat aku perhatikan saat memilih bacaan untuk Kavya adalah warna, gambar, juga nilai moral yang terkandung dalam setiap cerita. Kenapa? Untuk warna, aku ingin melalui cerita yang aku bacakan, juga jadi media pengenalannya terhadap rupa-rupa warna. Sedangkan untuk gambar, aku ingin setiap gambar yang menghidupkan cerita, juga turut andil dalam menghidupkan imajinasinya. Nilai moral, tentu aku ingin setiap karakter dalam cerita menjadi contoh sebab akibat dari laku perbuatan.

kavya membaca bukunya sendiri

Aku juga yakin, anak-anak lebih menyukai cerita bergambar. Balik lagi ke pengalamanku waktu kecil, sampai sekarang aku masih ingat gambar petani, kancil, juga ladangnya yang menghasilkan banyak ketimun. Benar-benar nempel dan jadi memori yang menghangatkan setiap kali mengingatnya.

“Gambar di buku tuh, selain mampu menghidupkan cerita, juga mampu memancing imajinasi. Dari gambar petani, ladang timun, dan kancilnya, aku di waktu kecil jadi punya imajinasi tentang kelanjutan cerita, atau cerita versi lainnya. hhe…”

Hal ini juga yang sedang aku upayakan untuk Kavya. Kavya berhak punya memori masa kecil yang hangat, indah, dan berwarna. Dengan membangun rutinitas membacakan cerita sebelum tidur, semoga bisa menjadi bekal tumbuh baik moral, psikis, juga karakternya.

Let’s Read, gudangnya buku digital

Sulit enggak sih menemukan bacaan yang pas untuk anak? Kalo judulnya perlu ngubek satu perpustakaan  atau gudang bacaan sih, jelas akan kesulitan. Belum lagi capek. Terlebih sekarang lagi pandemi. Lain hal kalo kelilingnya di perpustakaan digital. Jadi bisa nyari buku sambil selonjoran di bawah AC 21 derajat. Aman pula. Mantap!

Nah, aku punya pengalaman nyari buku digital di Let’s Read, sebuah aplikasi khusus yang menyediakan banyak buku bacaan anak. Di sana aku bisa menemukan banyak buku bacaan anak dengan berbagai bahasa. Ada bahasa sunda, jawa, bahasa indonesia, minang, batak toba, malay, dan masih banyak lagi. Bisa sekalian mengenalkan Kavya dengan berbagai bahasa juga.

Tampilan Let’s Read di Dekstop.

Selain itu, Let’s Read juga mengkategorikan buku bacaan tidak hanya dengan tema buku saja, tapi juga berdasarkan reading level yang akan semakin memudahkan kita menemukan buku yang diinginkan.

Caranya gimana sih?

Hidup di era digital memang menyuguhkan banyak kemudahan. Termasuk kemudahan mengenalkan anak dengan bacaan. Caranya gimana? Moms, hanya perlu download aplikasi Let’s Read di smartphone.

Kelebihan lain dari Let’s Read, jika kita terbiasa membaca buku fisik, buku-buku yang ada di Let’s Read ternyata bisa dicetak juga. Cocok banget buat aku yang kolot, tidak terbiasa membaca buku tanpa menggenggam fisiknya. Hehehe…

Nah, itulah ceritaku tentang menciptakan memori terbaik untuk Kavya. Semoga di luar sana, semakin banyak ibu-ibu yang aware tentang menumbuhkan minat baca sejak dini dan tentang bagaimana menciptakan memori masa kecil terbaik untuk bekal pertumbuhannya. Setiap ibu punya cara masing-masing, dan salah satu caraku adalah dengan membacakan buku cerita sebagai pengantar tidur. 

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here