Senin pagi selalu menjadi hari baru bagiku. Selain memang merupakan awal hari, Senin selalu membawa kabar baik. Salah satunya adalah kesempatan mengikuti diskusi terbatas “Skenario Bisnis Pasca Akuisisi Freeport”.

Pertama kali mendengar temanya saja, sempat membuatku jiper. Gak ada basic sama sekali tentang pertambangan, hanya sedikit mengingat istilah pertambangan saat duduk di bangku SMA dan itupun lebih banyak nge-blank-nya. Sekarang aku duduk di antara para ahli pertambangan, dengan pembahasan yang cukup untuk bolak-balik google search. Tapi, di sinilah yang aku suka dari menulis sesuatu yang baru. Selain bisa menambah pengetahuan, tentunya bisa menjadi garda pertama sebuah berita untuk disampaikan ke masyarakat.

Ett… Tenang teman-teman, meskipun memang aku akan menceritakan tentang Freeport pasca akuisisi, tapi aku ingin share dalam bahasa yang semoga mudah dimengerti, ya bahasa orang awam jadi harap maklum ya.

Diskusi Terbatas Skenario Bisnis Pasca Akuisisi Freeport
Diskusi Terbatas Skenario Bisnis Pasca Akuisisi Freeport

Mengenal PT Freeport Indonesia

Sebelum membahas terlalu jauh, aku pengen ajak teman-teman kenalan sama PT Freeport Indonesia. Sejauh apa sih teman-teman ketahui tentang PT Freeport Indonesia? Atau jangan-jangan masih ada yang baru mendengar Freeport di tulisan aku? Semoga tidak ya. Karena Freeport sempat pernah menjadi viral beberapa tahun berlakangan terkait polemik perpanjangan kontrak. Polemik yang tak pernah berhenti mengundang pro kontra bahkan terus berlanjut pasca akuisisi.

Berbicara tentang Freeport memang selalu terkait dengan tambang emas terbesar di dunia. Terletak di Papua, tepatnya di kabupaten Timika, PT Freeport Indonesia sudah beroperasi sejak tahun 1967. Setelah selama lebih dari 40 tahun terakhir, lebih dari Rp 140 triliun investasi dibenamkan di pertambangan tersebut.

Jika lebih mendasar lagi, perlu diketahui bahwa kegiatan menambang adalah kegiatan yang meliputi pengeboran dan peledakan, pengisian dan pengangkutan muatan, dan penghancuran, menghasilkan bijih tembaga. Saat ini PT Freeport Indonesia (PTFI) menerapkan dua teknik penambangan, yakni open-pit atau tambang terbuka di Grasberg dan tambang bawah tanah di Deep Ore Zone (DOZ). Perlu diketahui bahwa di masyarakat sekitar, Freeport lebih dikenal dengan Grasberg.

Nah, itulah sekilas tentang PT Freeport Indonesia, semoga bisa membantu teman-teman yang belum mengenal Freeport ya.

PT Freeport Indonesia Pasca Akuisisi

Teman-teman, Meski PT Freeport berlokasi di Indonesia, tapi  kepemilikan tambang emas tersebut berada di tangan  perusahaan pertambangan Amerika Serikat. Indonesia hanya menguasai saham sebesar 9,36 persen di PT Freeport. Tapi itu dulu ya.

Kini pasca akuisisi, Indonesia menguasai saham sebesar 51% yang diwakilkan oleh PT Inalum (PT Indonesia Asahan Alumunium). Pasca diakuisisi pemerintah dan PT Inalum, jelas PT Freeport Indonesia akan mengalami perubahan management.  Banyak sekali yang menjadi PR peremerintah dan Inalum terkait pengelolaan Freeport di masa depan. Terlebih saat ini pertambangan Freeport akan menuju era tambang dalam, dimana dari segi peralatan maupun sumber daya, memerlukan dukungan dari berbagai pihak.

Skenario Bisnis Pasca Akuisisi Freeport
Skenario Bisnis Pasca Akuisisi Freeport

Hal inilah yang menjadi poin diskusi terbatas yang diselenggarakan di Bromo Room, Grand Hyatt Hotel Jakarta pada Senin, 17 september 2018. Dengan mengangkat sebuah pertanyaan besar pasca akuisisi “Sejauh apa kesiapan Inalum dan Pemerintah mengelola Freeport di masa depan” dengan turut menghadirkan pembicara-pembiacara andal di bidangnya. Seperti:

  1. Irwandy Arif, Ketua Indonesia Mining Institute
  2. Milawarma, Profesional pertambangan
  3. Sukmandaru Prihatmoko, Ketua Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI)

Bukan hanya tentang penguasahaan saham, Inalum juga harus mempersiapkan diri untuk tambang bawah tanah.

Teman-teman, dalam jangka waktu yang tidak lama lagi, persediaan cadangan tambang terbuka (open pit) di Grasberg sudah akan habis. Inilah yang patut digaris bawahi Inalum. Penguasaan saham sebesar 51% membuatnya memiliki tugas berat mengenai persediaan cadangan tambang terbuka yang akan segera habis. Hal ini mengharuskannya berfokus pada tambang dalam yang tingkat kesulitannya lebih ketimbang tambang terbuka.

Menurut bambang Susigit selaku Direktur Pembinaan dan Pengusahaan Mineral Kementerian ESDM yang turut hadir dalam diskusi tersebut mengatakan, “Selain memiliki  tambang terbuka di Grasberg, Freeport saat ini memiliki 5 tambang bawah tanah dengan cadangan yang sangat besar.”

Perlu diketahui, bahwa untuk menggarap tambang di bawah tanah diperlukan modal yang tidak sedikit, SDM yang benar-benar menguasai pertambangan, dan tentunya teknologi. KarenaSDM bangsa Indonesia yang menguasai pertambangan masih bisa dihitung jari, maka untuk aspek teknis pertambangan  memanfaatkan sumber daya pengalaman Freeport  yang sudah 51 tahun menggarap lahan pertambangan di Grasberg.

Harapannya dengan adanya sinergi tersebut, kegiatan pertambangan Freeport Indonesia mampu memberikan kontribusi yang optimal kepada negara dalam jangka panjang.

Narasumber dalam diskusi terbatas skenario bisnis pasca akuisisi freeport
Narasumber dalam diskusi terbatas skenario bisnis pasca akuisisi freeport

Tiba di catatan akhir, apa sih yang berubah setelah kepemilikan saham 51% PT Freeport Indonesia dimiliki oleh inalum?

  1. Kesempatan lebih terbuka untuk melakukan eksplorasi jalur mineral potensial Papua oleh anak bangsa.
  2. Putaran kegiatan ekonomi diharapkan meningkat dengan penerapan “Konten lokal” dan partisipasi bisnis lokal
  3. Kapital akan tidak mengalir ke luar (Papua dan Indonesia) tetapi berputar di dalam negeri
  4. Tambahan pengetahuan, skill dan teknologi bisa dikembangkan oleh anak bangsa mengingat Freeport memiliki metode penambangan rumit dan sulit
  5. Perlu mempersiapkan personil generasi muda tentang science, engineering dan management eksplorasi penambangan besar
  6. Inalum akan naik tingkat dan masuk ke jajara operator pertambangan mineral kelas wahid di Dunia se level dengan Vale (Brazil), Codelco (Chile)

Itulah kira-kira poin yang aku dapat dari diskusi terbatas tentang Freeport pasca akuisisi.

Gimana teman-teman? Pembahasannya agak pusing atau pusing banget? Hehe.. Gak apa-apa ya, yang penting kita perlu tahu perkembangan freeport pasca akuisisi. Selebihnya, kita do’akan dan bantu pemerintah menciptakan generasi-generasi terbaik untuk meneruskan eksplorasi mineral potensi Papua, yang tentunya berguna untuk masa depan.

Kedepannya diharapkan Indonesia bisa berdiri sendiri dalam pengelolaan Freeport dengan hanya mengandalkan SDM dari dalam negeri. Dengan berbekal generasi-generasi baru yag menguasai ilmu pertambangan, yang tentunya memikirkan berbagai resiko, termasuk resiko negatif terhadap alam dan lingkungan.

Seperti kata Irwandi Arif selaku Ketua Indonesia Mining Institute,

“Tuhan bisa memaafkan, manusia bisa memaafkan, tapi alam tidak bisa memaafkan.”