Macet di kota-kota besar memang sudah menjadi ciri khas. Pelebaran ruas jalan, penambahan ruas jalan, seakan tidak bisa menjadi solusi, jika hal ini selalu berbanding lurus dengan penambahan kendaraan. Kebijakan-kebijakan baru terus diupayakan demi terurainya kemacetan. Seperti tiga kebijakan penanganan macet di Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi (Jabodetabek) dengan menerapkan peraturan ganjil-genap nomor kendaraan di gerbang tol bekasi barat dan bekasi timur, pembatasan jam operasional angkutan barang, serta jalur khusus angkutan umum.

Namun sayangnya kebijakan ganjil genap nomor kendaraan dan pembatasan operasioanl angkutan barang semakin memperlambat pengiriman barang. Yang mana nasib pengiriman barang sifatnya sangat penting dengan perhitungan sampai dalam hitungan jam akan sulit diprediksi.

JNE kumpul bareng kawan pers nasional
JNE kumpul bareng kawan pers nasional

Hal inilah yang berusaha dikupas dan dikaji bersama dalam acara JNE Kumpul Bareng Kawan Pers dengan mengangkat topik “Dampak tiga kebijakan penangan macet jalan tol jakarta-cikampek: perspektif regulator dan Pegasusaha.” Acara ini digelar untuk jurnalis dan blogger, bekerja sama dengan harian bisnis indonesia.

“Acara diskusi antara pihak-pihak yang berkepentingan harus terus terlaksana. Tujuannya sebagai wadah yang dapat menghasilkan solusi dari tiap tantangan yang ada dalam berbagai bidang terkait pengiriman ekspres dan logistik. JNE yang telah lebih dari 27 tahun mengemban amanah pengiriman paket seluruh pelanggan setianya, harus berperan aktif menyelenggarakan program maupun acara untuk mendukung kemajuan industri ini, serta mendorong terciptanya kolaborasi dan sinergi antara seluruh stakeholder.” Ungkap Presiden Direktur JNE, M. Feriadi.

Diskusi ini dilaksanakan di Mercantile Athletic Club World Trade Center Lt.18, Jalan Jenderal Sudirman Jakarta, pada hari selasa, 8 mei 2018. Dengan turut menghadirkan lima pembicara. Di antaranya:
1. Chairman Supply Chain Indonesia, Bapak Setijadi
2. Wakil Ketua Umum Kadin Bidang Logistik, Bapak Rico Rustombi
3. Wakil Ketua Umum Asperindo, Bapak Budi Paryanto
4. Kepala BPTJ, Bapak Bambang Prihartono
5. Presiden Direktur JNE, Bapak M Feriadi

Terkait pengiriman ekspres dan logistik dalam diskusi ini pula diuraikan tentang kondisi konektivitas nasional yang mana biaya trasportasi logistik darat (truck) relatif sangat murah sehingga mendominasi trasportasi logistik khususnya di Jawa. Hal ini bisa terjadi karena beberap hal di antaranya:

  • Dari segi cost structure : tidak terdapat access-charges seperti KA, menggunakan BBM subsidi, mayoritas perusahaan truck menghiraukan biaya depresiasi asetnya,biaya perawatan rendah meskipun umur truck lebih dari 10-15 tahun, tidak ada biaya asuransi pengemudi.
  • Dari segi operational: saat ini truck cenderung beroperasi dalam keadaan kelebihan muatan (hampir dua kali lipat kapasitas maksimumnya), sehingga biaya distribusi dapat lebih ditekan lagi.
  • Dari segi business practise: berdasarkan survey yang baru dilangsungkan, lebih dari 90% truck yang melayani distribusi Jakarta-Surabaya menggunakan sistem pembayaran Lump Sum sebesar kurang lebih Rp. 4,2 juta untuk sekali putaran.
JNE kumpul bareng kawan pers nasional
JNE kumpul bareng kawan pers nasional

Ketika pilihan masyarakat mayoritas memilih pengiriman logistik dengan harga murah, maka pilihan itu ada pada transportasi logistik darat. Tapi, dengan adanya kebijakan pemerintah dalam upaya penguraian macet, jelas memiliki dampak bagi angkutan barang baik itu dampak positif maupun negatif. Berikut dampak-dampak kebijakan bagi angkutan barang :

  1. kebijakan pembatasan jam operasional armada
  2. penyesuaian jadwal armada
  3. tingkat konsumsi BBM Armada turun
  4. tingkat kelancaran armada naik
  5. tingkat produktivitas armada (jumlah ritase) turun
  6. waktu operasional armada bertambah

“Era digital saat ini menuntut perusahan jasa pengiriman ekspres untuk dapat lebih cepat dalam mendistribusikan paket. Dengan peningkatan performa dalam hal waktu pengantaran tersebut, maka dampaknya pun akan besar dalam mendorong percepatan pertumbuhan ekonomi. Hal tersebut karena banyaknya aktifitas bisnis yang bergantung pada proses distribusi yang dijalankan untuk pelanggan perusahaan sampai dengan UKM”. lanjut Feriadi.

Dalam kasus ini  maka dihadirkan CY kereta api yang dapat dimanfaatkan sebagai tujuan-dalam pengiriman barang antara pelabuhan tanjung priok atau kawasan industri. Dengan harapan dapat menjadi solusi agar perlambatan proses pengiriman paket tidak terjadi. Pemanfaatan CY (Container yard) tersebut akan mengurangi volume pengiriman barang dengan trucking sehingga sangat berpotensi mengurangi tingkat kemacetan pada ruas jalan terkait.

Di pulau jawa terdapat beberapa lokasi Container Yard Kereta Api, seperti di cilegon, cikarang, klari, cibungur, bandung, semarang, dsb.

2 COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here