Setiap orang pasti memiliki satu momen yang ingin sekali diulang. Satu momen yang mempunyai memori tersendiri, seakan menguasai semua sudut pikiran. Coba pikirkan satu momen itu. Aku salah satunya. Momen yang ingin sekali aku ulang adalah momen-momen pdkt suami yang aku ingat lekat tapi tak sempat aku abadikan.

Memang manusia tidak akan pernah tahu, momen mana yang akan membawanya pada perubahan besar. Tak tahu siapa dan apa yang akan menjadi kenangan terindah bagi hidupnya. Sampai suatu itu terjadi, dan menjadi pangkal semua cerita hidupnya. Siapa sangka, di hari itu, hari yang membuat tekadku berani melangkahkan kaki ke mozilla space. Siapa sangka, pria yang saat itu aku lihat usianya jauh dibawahku, terlihat kusam, tak terurus dengan kaos hitam gaya slengean itu akan menjadi awal pertemuan aku dengan imamku.

Pada 21 Mei 2017, entah apa yang membuat kakiku melangkah mantap ke sana. Padahal aku sempat bingung dan ingin batal hadir. Selain karena aku belum memiliki kenalan, teman yang akan menemaniku hadir ke acara batal menemani. Aku tak seberani itu. Datang sendirian dan masuk ke lingkungan baru tanpa adanya pegangan. Jam 12.00 siang, selepas shalat dzuhur, aku kembali merebahkan badan sambil menimang kata yang tepat sebagai permintaan maaf karena batal hadir. Tepat pukul 13.00, acara dimulai, aku tahu karena saat itu aku sudah dimasukkan ke grup wa acara tersebut. Dan tepat di waktu itu juga, temanku Dinda bersedia menemani hadir ke acara.

Blogger jakarta
Blogger jakarta

Aku memang bukan tipikal orang yang mudah membatalkan janji. Saat menerima pesan Dinda, aku buru-buru mengirim wa ke grup acara mengabarkan permintaan maaf karena datang telat. Singkat cerita aku bergegas datang ke acara di temani Dinda. Aku tak begitu ingat, siapa dan apa yang dijelaskan di sana. Pikiranku masih sulit menerka kenapa aku bisa ada di sana. Duduk dengan isi kepala yang gak ada hubungannya dengan apa yang dijelaskan di sana. Tapi, siapa sangka… momen itu, adalah pangkal kehidupan baruku. Saat itu aku tak berkesempatan mengambil gambar apapun, selain mata yang menangkap banyak sosok baru, rasa canggung, dan komunikasi yang terbatas karena rasa kikuk.

Singkat cerita, waktu berlalu begitu pesat. Pesan demi pesan ku terima, kadang tertawa kadang jengkel kadang kecewa. Deringan telpon dengan suara khas mulai mewarnai langit-langit kamarku. Dan yang berbeda, ada degupan jantung yang tak senada biasanya setiap kali suara itu bercerita. Hingga di bulan November 2017, aku lupa tanggal berapa, di sebuah taman di bilangan Jakarta selatan, pria yang awalnya aku kira usianya jauh di bawahku, pria slengean yang jauh dari kriteriaku mengungkapkan keseriusannya. Meski saat itu suaranya pelan, bahkan saking pelannya kalah sama suara pengamen, tapi aku tahu di sana ada kesungguhan. Dengan diwarnai semburat cahaya rembulan, aku bisa menangkap keseriusan pada raut wajahnya.

saya dan suami
saya dan suami

“Aku tahu, aku jauh dari apa yang kamu mau. Aku tahu pemahaman agamaku masih jauh dari cukup untuk memimpinmu. Tapi, aku serius. Aku akan berusaha jadi imam yang baik. Jadi orang yang lebih baik. Dan aku butuh kamu di sampingku. Menemani prosesnya. Aku mau berubah, tolong bantu aku.” Itulah kata yang aku tangkap pada malam itu. Sayangnya, aku tak tahu bahwa itu akan menjadi memori awal kesepakatan-kesepakatan lain. Sayangnya terlalu gelap untuk menangkap raut keseriusannya dengan lensa kamera untuk aku tunjukkan kepada semua.

Itulah dua momen pangkal yang membawaku pada kehidupan ini. Duduk di atas karpet, menulis dalam sebuah rumah yang di dalamnya kini ku temukan dia rebahan sambil bermain handphone. Hmm.. aku sudah menikah. Dua momen pangkal, yang satu pangkal pertemuan, yang satu pangkal keputusan.

Jika kamu diberi kesempatan, momen apakah yang ingin kamu ulang?

Kalo aku, jelas kedua momen itu. Aku ingin lebih menangkap gaya slengeannya sekali lagi. Dengan kamera yang cukup baik, hingga setiap urat-urat mukanya bisa aku lihat dengan jelas. Jika ada kesempatan, aku ingin mengulang momen pangkal kesepatakan itu. Dengan kamera yang memiliki kemampuan untuk menangkap gambar, meski di tempat yang minim cahaya.

Kabarnya sekarang Samsung meluncurkan smartphone Samsung Galaxy pertama dengan 3 kamera belakang pada 11 Oktober 2018  lalu, yakni Samsung Galaxy A7. Nah, mendengar kabar fitur yang dimiliki Samsung Galaxy A7  seperti main camera 24 MP dengan aperture F/1.7, bisa membuat raut keseriusan pada wajah suamiku saat itu lebih tertangkap dengan jelas.

Hasil jepretan kamera Samsung Galaxy A7
Hasil jepretan kamera Samsung Galaxy A7

Jika diberi kesempatan mengulang, aku ingin memotret setiap raut keseriusannya dengan kamera Samsung Galaxy A7. Meski di taman hanya berteman sinar rembulan, dengan kemampuan kamera dari Samsung Galaxy A7, raut-raut itu bisa jelas terdeteksi dan aku abadikan sebagai bukti kepada anak cucu.

Tapi sekali lagi, aku tak pernah menyangka momen itu akan membawaku pada perubahan besar. Aku sama sekali tak menyangka, pria slengean yang aku lihat pertama kali di mozilla space kini menjadi imam shalatku. Sebuah kejutan dari yang maha pemilik takdir.

Oh ya… teknologi masa kini dari Samsung juga menampilkan depth camera untuk menghasilkan gambar bokeh efek atau live focus mode. Dan yang paling aku kagumi adalah wide lens camera dari Samsung dengan kemampuan hasil foto yang luas/ultra wide Angle, 120 derajat, seperti pandangan mata manusia.

Hasil jepretan Samsung Galaxy A7 dengan fitur ultra wide Angle
Hasil jepretan Samsung Galaxy A7 dengan fitur ultra wide Angle

Jika ada kesempatan memutar ulang, aku ingin memotret semua yang ada di taman itu dalam satu bingkai. Setiap raut keseriusan wajahnya, bagaimana bulan bereskpresi pada malam itu, bagaimana dan apa saja yang ada di sekelilingku. Lalu, akan ku pajang dengan bingkai putih di ruang tamu rumah kami. Ah, aku ingin mengabadikan setiap proses perjalanan itu, perjalanan-perjalanan keputusan yang membawaku ke ruangan ini. Bersama laptop dan tulisan ini, juga seorang pria baik di sampingku.

Tak hanya berhenti sampai di sana. Sebagai anak generasi millennial yang selalu mengedepankan tampilan fisik agar bisa dipamerkan sempurna, Samsung Galaxy A7 memenuhi kriteria itu. Design yang keren dengan real metal and glass dengan letak fingerprint baru di samping kanan smartphone. Sebuah tampilan elegan yang mampu membuat penggunanya percaya diri ketika mengambil gambar di depan banyak orang.

 

Untuk yang mementingkan feeds Instagram, Samsung Galaxy A7 juga hadir dengan intelegent camera system yang dengan otomatis mengatur saturasi, white balance, dan level pencahayaan. Selain itu, Samsung Galaxy A7 juga dilengkapi dengan Dolby Atmons Speaker.

Jadi, momen apa yang ingin kamu abadikan?

Setiap orang pasti memiliki satu momen yang ingin sekali diulang. Namun sayangnya pengulangan momen hanya akan mengurani nilai ‘natural’ dari momen itu. Jadi, lebih baik menciptakan momen lain yang lebih baik, dengan sebisa mungkin menangkapnya dengan kecanggihan kamera. Agar bisa jadi saksi abadi yang kita pajang di atas meja kerja atau di atas TV cabinet. Menciptakan ruangan bernyawa dan bernuansa hangat dengan potret-potret perjalanan hidup kita.

Selfie dengan Samsung Galaxy A7
Selfie dengan Samsung Galaxy A7

Momen pertemuan pertama kali aku dengan suami gak pernah bisa diulang, termasuk momen keputusan pertama yang membawa perubahan besar dalam hidup kami. Tapi momen-momen baik lain, seperti maternity shoot, newborn baby shoot, dan momen-momen baik lainnya, ingin aku tangkap dengan baik tak hanya oleh kedua mataku. Tapi, juga oleh Samsung Galaxy A7 agar bisa aku tunjukkan juga kepada anakku kelak jika dia sudah besar.

Samsung Galaxy A7
Samsung Galaxy A7

Nah, jika kamu ingin menyertakan Samsung Galaxy A7 dalam setiap potret potret perjalanan hidupmu, Samsung Galaxy A7 sudah bisa kamu dapatkan dengan harga Rp. 4.499.000 mulai tanggal 24 Oktober 2018.

Abadikan setiap momen hidupmu, bingkai setiap potretnya, pajang dan jadikan bagian dari kehangatan rumahmu.

Salam,

 

Potret istri masa kini

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here