Entah sejak kapan, kebiasaanku di Instagram ada perubahan yang signifikan. Terutama dalam hal ngepoin akun selebgram atau artis-artis dalam negeri. Dulu saat usia masih belia, aku suka banget stalking akun-akun artis yang lagi naik daun karena film yang dibintanginya. Sebut saja Dimas Anggara dan Michelle Ziudith yang sukses dengan film Magic Hour sampai London Love Story.

Kebiasaan itu kini bergeser. Aku sudah tidak lagi begitu tertarik dengan perkembangan artis-artis muda beserta drama percintaannya. Sekarang yang lebih menarik perhatianku di Instagram adalah akun para influencer yang sukses menggunakan powernya dalam menginfluence followersnya menerapkan pola hidup yang lebih baik.

Kali ini, bukan tentang perfilman atau tentang drama-drama ala anak remaja. Kali ini aku lebih tergiur kepada pola hidup sehat  influencer yang berusaha mereka tularkan kepada followersnya. Ah, betapa menyenangkan jadi seseorang yang memiliki power dan digunakan untuk menebarkan kebaikan. Termasuk dalam hal pola hidup sehat.

Jujur, aku memang bukan tipikal orang yang menerapkan hidup sehat dengan ‘saklek’. Perutku tetap menerima junk food, mulutku masih bisa menikmati soda, dan pencernaanku masih cukup baik untuk menampung makanan pedas.

Bahkan terkadang pola makan yang buruk pun masih sering aku lakukan. Mulai dari makan sampe kenyang, makan di saat perut bener-bener udah lapar dan akhirnya membuat nafsu makan sulit direm. Yap, meskipun ‘panduan isi piringku’ sudah aku ketahui sejak lama, tapi kadang tetap masih suka dilanggar. Aturan makan isi piringku adalah 2/3 karbohidrat, 1/3 porsi protein dan lemak (lauk pauk), ½ sayur serta buah.

Pelan-pelan aku mulai menerapkan gaya hidup sehat. Salah satunya adalah membiasakan diri mengkonsumsi minuman yang lebih sehat. Nah, akun favoritku di Instagram dalam memperlajari ini salah satunya akun milik @kentskyler yang dikelola oleh ibunya. Menurutku ibunya merupakan contoh ibu yang berhasil menerapkan gaya hidup sehat kepada anaknya, Ken. Sejak kecil, anaknya terbiasa mengkonsumsi smoothies tanpa gula. Sebuah prestasi yang patut ditiru.

Dalam hal ini, aku ingin sedikit berbagi tentang  pentingnya konsumsi minum yang lebih sehat. Kebetulan pada tanggal 18 oktober 2018 lalu, aku mendapat kesempatan menyimak hal ini langsung dari pakarnya yakni Professor Ujang Sumarwan selaku Ahli Consumer Behavior dari Institute Pertanian Bogor dan Dr. Rimbawan selaku Ahli Gizi dari Institute Pertanian Bogor. Sebuah acara bertajuk hydration talk yang diselenggarakan oleh Danone Indonesia dalam rangka mengajak masyarakat Indonesia kenali kebutuhan nutrisi minuman harian.

Dr. Rimbawan
Dr. Rimbawan selaku Ahli Gizi dari Institute Pertanian Bogor

Nah, sejak menyimak pemaparan dari para ahli tentang pentingnya minum yang lebih sehat, aku jadi paham ternyata perihal ini sangat erat kaitannya dengan lifestyle kita. Jadi, merupakan hal wajar jika saat lifestyle aku bergeser dari Dimas Anggara dan filmnya ke akun Kenskyler dan pola makan hariannya, aku seperti digiring untuk melakukan hal yang sama. Ada kesadaran yang terbangun saat membaca caption-captionnya.

Hal inipun diperkuat  oleh pernyataan  Dr. Rimbawan bahwa gaya hidup sangat mempengaruhi perubahan pola konsumsi. Inilah yang aku rasakan.

You are what you eat

Pernah mendengar istilah “you are what you eat” enggak? Enggak ya? Hehe.. iya aku juga baru pertama denger istilah itu saat Dr. Rimbawan memaparkan tentang betapa pentingnya membaca informasi gizi di label makanan. Sebelum beranjak ke sana, aku ingin menjelaskan bahwa gaya hidup sangat mempengaruhi perubahan pola konsumsi.

Seseorang yang punya kebiasaan mengkonsumi minuman mengandung gula tinggi, maka risiko yang mengitarinya adalah penyakit diabetes. Seseorang yang memiliki gaya hidup sering mengkonsumi junk food, enggan berolahraga, maka risiko yang sangat dekat dengannya adalah obesitas. Begitupun seterusnya. Mau seperti apa kita, itu tergantung apa yang kita makan.

Ada perubahan lifestyle dalam mengkonsumi minuman seiring perkembangan teknologi. Semakin teknologi berkembang, semakin banyak diproduksinya minuman dalam kemasan. Semakin banyak diproduksi minuman kemasan ternyata berbanding lurus dengan permintaan konsumen.

Ketika penghilang dahaga tak hanya tentang air putih, jernih. Tapi juga segar, dingin, manis dan enak.

Apa yang dicari saat haus? Air

Air seperti apa yang kamu cari? Segar, ada rasanya, dingin, enak.

Ketika kebutuhan akan air untuk penghilang dehidrasi tak hanya tentang jernih, tapi tentang rasa dari minuman yang ditawarkan, saat itulah kita sudah mengalami pergeseran gaya hidup dalam memilih minuman. Ketika di supermarket yang kita pilih adalah minuman kemasan untuk penghilang dahaga, apakah kita sudah mengetahui seberapa banyak kandungan gula dalam minuman tersebut?  Ingat ya teman-teman, batas konsumsi gula harian hanya 50 gram. Dan itu sudah termasuk gula yang terkandung dalam makanan.

Belum lagi perubahan pola mengisi waktu luang. Dahulu anak-anak sering mengisi waktu luang dengan kegiatan di luar rumah dari mulai lari-larian, becek-becekan, mandi di kali. Sekarang physical activity anak-anak masa kini sangat berkurang. Lebih banyak duduk dan nunduk.

Nah, dari perubahan  konsumsi minuman dan pola waktu luang inilah yang akhirnya memicu lahirnya pergeseran pada perubahan pola penyakit. Ketika sanitasi membaik, inveksi makin berkurang tetapi penyakit non inveksi makin bertambah. Penyakit inilah yang disebut penyakit tidak menular tapi mematikan. Seperti stroke, penyakit jantung, diabetes, hipertensi. Hal ini merupakah akibat dari perubahan gaya hidup yang mempengaruh perubahan pada pola penyakit.

Jadi, jika dulunya hipertensi, stroke, diabetes, dikenal dengan penyakit yang hanya menyerang orang kaya, beda halnya sekarang. Kaya, miskin, perkotaan, pedesaan, hampir memiliki pola konsumsi yang sama. Contohnya kopi dan teh yang menjadi minuman paling diminati. Air putih? Sudah mengalami pergeseran baik di perkotaan maupun di pedesaan.

Yuk, Biasakan Membaca Kandungan Gizi pada Label Makanan dan Minuman

Emang penting banget ya baca kandungan gizi?

Temen-temen, budaya konsumtif semakin ke sini semakin melonjak. Tak hanya makanan dalam kemasan, budaya konsumsi minuman dalam kemasan pun mengalami kenaikan. Jika dahulu hanya masyarakat perkotaan yang suka mengkonsumsi minuman dalam kemasaan, berbeda dengan sekarang, di mana masyarakat pedesaan pun mulai gemar mengkonsumsi minuman dalam kemasan. Sayangnya budaya ini tidak dibarengi edukasi tentang betapa pentingnya mengenali kandungan dari minuman kemasan tersebut.

Emang penting banget ya baca kandungan gizi?

Di sinilah peran dari kandungan gizi pada label makanan dan minuman yang akan kita konsumsi. Di mana dari informasi kandungan gizi tersebut, kita mampu mengenali minuman mana yang kandungan gizinya sesuai dengan kebutuhan tubuh kita. Seseorang yang memiliki penyakit diabetes, jelas harus memilih minuman-minuman yang rendah gula. Jadi jika memilih minuman di supermarket jangan asal enak, manis, dan lagi ngetrend doang, tapi cobalah lebih bijak dengan membaca kandungan gizinya.

Di Indonesia ada peraturan bahwa kandungan gizi hanya diwajibkan untuk label-label tertentu. Jadi tidak semua minuman di Indonesia ada label gizinya kecuali dia mengajukan klaim. Jika klaimnya isotonic, maka harus mencantumkan nilai gizinya. Kabarnya di Indonesia baru tahun 2020 nanti  semua produk harus menyertakan kadar gizi.

Nah sekarang kita bisa belajar dari semua produk danone, yang mana semua produk Danone sudah ada tabel gizinya sebagai bentuk kesediaan produsen memberikan pendidikan  gizi kepada konsumen. Semoga ke depannya semakin banyak produsen yang mengerti tentang betapa pentingnya memberikan pendidikan gizi kepada konsumen ya, tak hanya Danone saja.

Nah, sambil menunggu tahun 2020 di mana semua produk akan menyertakan nilai gizinya, yuk kita mulai membiasakan diri membaca informasi kandungan gizi pada makanan dan minuman dalam kemasan. Semoga prosesnya dimudahkannya.

By the way, kembali ke gaya hidup, aku ingin ngajak kamu untuk banyak bergerak, kurangi ‘budaya duduk dan nunduk’. Atau jika butuh motivasi, kamu bisa follow akun-akun influencer yang memang passionnya menginfluence followersnya untuk hidup sehat.

Selamat belajar membaca label dan selamat datang generasi sehat.

12 COMMENTS

  1. Duh, jleb banget ini. Aku suka gak sadar dengan nutrisi. Kalo lagi lapar, yang lapar malah mata. Gitu juga saat haus. Mata yang diutamain. Padahal harusnya tubuh. Ihiks… makasih banget buat remindernya. 🙂

  2. budaya baca juga perlu sampai membaca label kandungan gizi dari tiap asupan kita ya kak. Jadi pintu masuk pola hidup sehat. Nyok ah jauhi budaya nunduk dan mulai bergerak-gerak

  3. Aku juga baru kenal caaya sebulan lalu, memang penting banget mengetahui kandungan gizi dari minuman yg kita konsumsi.. ngga hanya sekedar air minum biasa, tetap apakah minuman itu memiliki manfaat untuk tubuh atau tidak. Yuk ah jadi konsumen cerdas!

  4. Iyah, nih aku termasuk yang ga ngeh banget ama isi atau kandungan minuman apalagi kemasan botol di supermaket. asal minum aja, udah lepas dahga, udah, kelar. padahal pentng banget ya tahu soal ini. biar berasa banget

    btw aku belum nyobain minuman ini kak, ntar dicari deh

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here